Baru kali ini aku merasakan kericuhan di sekolahku yang selama ini belum pernah terjadi. Dengan wajah yang sangat penasaran,akhirnya aku mendekati tempat kericuhan terjadi. Berulang kali aku berusa mengucek mataku, dan aku berharap yang aku lihat ini hanyalah mimpi atau mungkin khayalanku yang terlalu tinggi. Berapa kali pun aku mengucek mata, namun hasilnya tetap sama. Sebuah kejadian yang membuatku sangat terkejut .aku melihat di sana , seorang guru sains terbunuh di lab sainsnya.
Dimana mulutnya mengeluarkan busa berwarna kuning kehijau-hijauan. Aku langsung menerobos masuk, untuk melihat korban lebih dekat. Ternyata guru terbunuh karna racun. Siapakah yang tega membunuh guru sendiri, jika guru tidak ada di dunia ini president pun tidak akan pernah ada. Aku mulai curiga dengan segelas teh dan kue yang ada di atas meja milik si korban . aku terus memperhatikan teh tersebut serta sekelilingnya. Ternyata benar dugaanku, tak jauh dari teh itu, aku melihat beberapa butir serbuk di telapak meja. Akhirnya aku mengambil sampel dari serbuk itu untuk di teliti lebih lanjut tentang serbuk itu. Tak lama kemudian sampel yang aku teliti tadi ternyata butiran Arsenik ( As ) sebuah unsur periodik pada golongan VAyang bersifat beracun. Tak sulit untuk menemukan Arsenik ini, karna di dalam lab sains sekolah terdapat unsure-unsur kimia. Didalam botol tersendiri, ada yang bergambarkan tengkorak dengan tulang yang bersilang di bawahnya yang bertana beracun , dan masih banyak yang lainnya. Siapakah yang tega melakukan ini semua.
Aku bergegas melaporkan kepada kepala sekolah, yang dari tadi meneteskan air matanya. Akhirnya terkumpul 6 orang yang di curigai , karna lima diantaranya siswa yang sangat kurang akur dengan si korban, serta seorang lagi adalah OB di sekolah kami, yang dimana setiap harinya mengantarkan segelas teh dan beberapa potongan kue untuk para guru.
Aku mulai membuka pembicaraan dengan para tersangka yang diduga mempunyai masalah dengan sikorban tersebut.
Clara : Sering dimarahin tanpa sebab yang pasti.
Leli : Sering di singgungkan / di cuekin oleh si korban.
Asep : Sering terlambat masuk, dan sering tidak di beri masuk.
Gina : sering di hina, contohnya kamu bodoh.
Anto : Semua usaha yang di lakuin tak pernh di hargai
Dewita : seorang OB yang bertugas mengatarkan teh dan kue untuk semua para guru.
Setelah memintai keterangan mereka masing-masing , aku masih sedikit ragu-ragu dengan hipotesisku . trpatnya aku belum bisa memastikan dia pelakunya. Akhirnya aku kembali mengamati si korban , untuk mendapatkan barang bukti yang lebih kuat. Yeps, tak sia-sia aku mengerahkan semua sistem di otaku. Teryata didalam tas korban terdapat .
“ Bunga yang terbuat dari kertas origami , yang berwarna perak”.
Aku langsung tersenyum dan tertawa kecil. Akhirnya aku telah berhasil memecahkan kasus pembunuhan ini. Pelakunya lebih dari satu orang. Aku kembali ke tempat tersangka sambil melemparkan senyumanku, dan berkata.
“ Hebat juga ya, motif pembunuhan yang di buat, saya tidak menyangka yang membuat motif pembunuhan ini adalah pera pelajar , oya bunga origaminya bagus banget ya”.
Sambil terseyum kecil serta kedua tanganku yang dari tadi aku selipkan ke kantong celanaku.
Aku melihat wajah mereka semua tegang serta ironisnya wajah pelakunya begitu pucat.
.jpg)




0 komentar:
Posting Komentar